Analisis Kritis
Merawat dan Memulihkan sebagai Perlawanan: Politik Kerja Pemulihan Perempuan di Ruang Ekstraktif
8 Maret 2026
Politik pemulihan dan perawatan sebagai perlawanan perempuan bekerja melalui dua gerak yang berlangsung bersamaan. Gerak pertama adalah mempertahankan hidup. Gerak kedua adalah menolak logika yang menjadikan kehidupan sebagai biaya, lalu memindahkan ongkosnya pada hidup keseharian. Perawatan, dalam pengertian ini, adalah tindakan politik untuk mempertahankan syarat hidup dan memaksa akuntabilitas atas kerusakan yang selama ini disembunyikan.
Sastiviani Cantika
Executive Director Lembaga Alam Tropikana Indonesia (LATIN), peneliti, seniman

Pada ruang ekstraktif, perlawanan sering dibayangkan sebagai sebuah peristiwa besar seperti aksi massa, konsolidasi panjang, blokade jalan, dan pernyataan sikap. Padahal, daya tahan perlawanan justru kerap dibangun di luar panggung itu, melalui kerja yang nyaris tidak terdengar. Air yang perlu disaring untuk memastikan keamanan konsumsi, strategi pangan yang berubah karena hilangnya sumber pangan dan harga pangan melonjak, sertawaktu istirahat yang terganggu oleh cemas yang menetap.
Jaringan pengasuhan disusun diam-diam agar orang dapat hadir rapat tanpa meninggalkan anak dan lansia tanpa pendamping. Ruang berbagi cerita dibuka agar ketakutan tidak menjelma menjadi isolasi. Pemulihan dan perawatan bergerak di wilayah ini. Ia menjaga kehidupan tetap berjalan, sekaligus menjaga daya untuk menolak.
Esai ini menempatkan politik pemulihan dan perawatan sebagai bentuk perlawanan perempuan di industri ekstraktivisme tambang. Meminjam definisi care dari Fisher dan Tronto: “caring be viewed as a species activity that includes everything that we do to maintain, continue, and repair our ‘world’” (Fisher dan Tronto, 1990, p. 40)[1]. Definisi ini penting karena “world” yang dirawat mencakup tubuh, diri, dan lingkungan, sehingga perawatan tidak bisa dikecilkan menjadi urusan domestik saja. Politik perawatan hadir ketika krisis yang diproduksi ekstraktivisme dipaksa kembali terlihat, sehingga tidak ditelan sebagai urusan rumah tangga.
Pembacaan ini juga menolak cara mudah yang menggambarkan perempuan sebagai kelompok yang secara alami lebih peduli atau lebih dekat dengan alam. Arora-Jonsson menunjukkan bahwa hubungan perempuan dan lingkungan kerap dipakai secara strategis dalam kebijakan, lalu berujung pada penambahan kerja perempuan dan pengaburan isu kepemilikan serta kuasa.
Ia juga menekankan bahwa dorongan untuk menyederhanakan dan membuat narasi yang mudah menggerakkan dapat melahirkan mitos gender dan fabel feminis, terutama ketika bukti dipandang tidak konsisten dan mudah diabaikan. Di sini perawatan dipahami sebagai kerja sosial yang dibentuk relasi kuasa, bukan sebagai mitos kebajikan.
Kerangka krisis perawatan membantu menjelaskan mengapa beban itu begitu mudah dipindahkan. Kapitalisme kontemporer mengandalkan kerja reproduksi sosial sambil menggerus kondisi yang membuat kerja itu mungkin untuk dilakukan (Fraser, 2017)[2]. Dalam konteks tambang, kerusakan air, penurunan kualitas lahan, dan tekanan sosial memaksa rumah tangga menutup kekosongan yang terbuka, sementara perempuan sering menjadi pihak yang paling didorong untuk bertanggung jawab mengisinya.
Krisis ini juga bergerak pelan, menyebar, dan menumpuk, sehingga mudah dinormalisasi sebagai gangguan teknis atau konsekuensi pembangunan. Tantangan utamanya adalah membuat ancaman yang menyebar dan tidak berbentuk menjadi terbaca sebagai kekerasan. Nixon merumuskan kebutuhan itu dengan jelas: “give symbolic shape and plot to formless threats whose fatal repercussions are dispersed across space and time” (Nixon, 2011)[3]. Pada titik ini, perawatan menjadi arena pertama di mana dampak ditanggung, sekaligus arena pertama tempat dampak ditolak untuk dianggap wajar.
Air, sebagai salah satu elemen “care” memperlihatkan dengan terang bagaimana perawatan bertaut dengan kuasa. Air bukan hanya menyoal sumber daya, melainkan akses, kontrol, dan pemaksaan adaptasi. Ketika air terganggu, waktu, tenaga, dan biaya rumah tangga meningkat, lalu beban penyesuaian diserap melalui kerja perempuan.
Dalam kerangka feminist political ecology, persoalan ini merupakan relasi kuasa yang tergenderkan, mencakup siapa yang memiliki akses, siapa yang mengatur, siapa yang menanggung, dan siapa yang suaranya diakui dalam mendefinisikan krisis (Rocheleau dkk., 1996)[4]. Kajian lintas konteks juga menunjukkan bahwa gender membentuk cara ketidakamanan air akibat ekstraktivisme dialami dan dikelola (Caretta dkk., 2024)[5]. Dari air, tekanan bergerak menuju pangan, karena kerentanan air dan lahan membuat kecukupan pangan makin rapuh dan makin bergantung pada pasar.
Pemantauan Komnas Perempuan terhadap konflik Kendeng menunjukkan dampak berlapis yang dialami perempuan, mulai dari meningkatnya beban kerja domestik dan reproduktif, delegitimasi di ruang publik, hingga intimidasi dan risiko kekerasan ketika perempuan bersuara (Komnas Perempuan, 2019)[6]. Temuan ini menolak pemisahan privat dan publik. Ketika air dan pangan terguncang, dampak tersebut bukan urusan domestiksemata, melainkan dampak politik.
Politik perawatan menjadi nyata ketika perawatan diubah menjadi kerja kolektif yang menopang daya tahan[7]. Kerja pangan menjaga agar pertemuan dan konsolidasi tetap berlangsung. Pengasuhan bergilir memungkinkan orang hadir rapat atau sidang tanpa meninggalkan tanggung jawab perawatan. Ruang aman memulihkan keberanian setelah intimidasi. Pengetahuan praktis tentang air dan kesehatan disebarkan agar dampak tidak ditelan sebagai nasib personal.
Kerja kolektif itu bukan semata hiasan di pinggir gerakan. Kerja kolektif adalah infrastrukturnya. Tekanan, kriminalisasi, dan kekerasan pada warga penolak proyek berulang muncul dalam dokumentasi advokasi (JATAM, 2023)[8]. Karena itu, strategi bertahan sering mengambil bentuk yang tidak selalu spektakuler, tetapi terus menerus merawat daya hidup komunitas. Infrastruktur perawatan mengubah perlawanan dari peristiwa menjadi kapasitas, dan kapasitas ini dibutuhkan ketika konflik memanjang dan kekerasan bergerak tersembunyi dan perlahan.
Tubuh menjadi lokasi tempat rantai krisis itu mengendap. Sakit, kelelahan, gangguan tidur, cemas, dan trauma bukan sekadar efek samping. Semua itu adalah cara krisis menyeberang dari lanskap menuju kehidupan sehari-hari, lalu mengubah cara orang bekerja, berhubungan, dan mempercayai sesama (Das, 2007)[9]. Pemulihan tidak dapat dipahami sebagai program setelah konflik. Pemulihan adalah kerja relasional di tengah krisis, kerja untuk menjaga agar hidup tidak runtuh dari dalam.
Politik pemulihan dan perawatan sebagai perlawanan perempuan bekerja melalui dua gerak yang berlangsung bersamaan. Gerak pertama adalah mempertahankan hidup. Gerak kedua adalah menolak logika yang menjadikan kehidupan sebagai biaya, lalu memindahkan ongkosnya pada hidup keseharian. Perawatan, dalam pengertian ini, adalah tindakan politik untuk mempertahankan syarat hidup dan memaksa akuntabilitas atas kerusakan yang selama ini disembunyikan.
Pada akhirnya, politik perawatan juga harus tetap kritis. Perawatan dapat menjadi beban ganda dan mudah dikooptasi oleh bahasa pemberdayaan yang memuji ketangguhan perempuan sambil membiarkan struktur kekerasan tetap utuh (Arora Jonsson, 2011)[10]. Membaca perawatan sebagai perlawanan berarti menolak pemindahan tanggung jawab yang tidak adil dan menuntut akuntabilitas pada tingkat struktur.
[1]Fisher, B., & Tronto, J. C. (1990). Toward a feminist theory of caring. In E. K. Abel & M. K. Nelson (Eds.), Circles of care: Work and identity in women’s lives (pp. 36–54). State University of New York Press.
[2]Fraser, N. (2018). Crisis of care? On the social-reproductive contradictions of contemporary capitalism. In T. Bhattacharya (Ed.), Social reproduction theory: Remapping class, recentering oppression (pp. 22–36). Pluto Press.
[3] Nixon, R. (2011). Slow violence and the environmentalism of the poor. Harvard University Press.
[4] Rocheleau, D., Thomas-Slayter, B., & Wangari, E. (Eds.). (1996). Feminist political ecology: Global issues and local experiences. Routledge.
[5]Caretta, M. A., Côte, M., Ramasar, V., van Ryneveld, M., & Sultana, F. (2024). Resistance to extractivism-induced water insecurity: Does gender have a role in it? A systematic scoping review. Geography Compass, 18(8), e12767.
[6]Komnas Perempuan. (2019). Laporan pemantauan isu HAM perempuan dalam konflik pertambangan rencana/pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Jawa Tengah. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).
[7] Jenkins, K. (2017). Women anti-mining activists’ narratives of everyday resistance in the Andes: Staying put and carrying on in Peru and Ecuador. Gender, Place & Culture, 24(10), 1441–1459.
[8] JATAM. (2023). Berontak sebagai syarat kehidupan: Kebengisan industri tambang di mata perempuan kepulauan. JATAM Nasional.
[9]Das, V. (2007). Life and words: Violence and the descent into the ordinary. University of California Press.
[10]Arora-Jonsson, S. (2011). Virtue and vulnerability: Discourses on women, gender and climate change. Global Environmental Change, 21, 744–751.