Suara Warga
Tubuh dan Alam Sagea, Cerita Perjuangan Perempuan Sagea
7 Maret 2026
Karena itu, bagi kami perempuan Sagea, mempertahankan alam bukan hanya soal menjaga ruang hidup. Ini adalah perjuangan untuk menjaga kehidupan, martabat, identitas, dan masa depan kampung.
Sulastri Mahmud
Perempuan Sagea, Maluku Utara

“Gae re gele fdadele re ftabtube ame ronta kfasalamat pnu re boten e. Mulai po batbete, Woye, banga, bongo Alam Sagea kiya nje.”
Untaian kalimat itu kerap diucapkan oleh perempuan-perempuan Sagea sebelum mereka melangkah melawan industri pertambangan yang kini mengancam kampung mereka. Larik bersahaja itu mengingatkan kepada semua warga Sagea, bahwa bentang alam Sagea merupakan warisan yang harus dijaga oleh siapa saja yang mengaku berasal dari Sagea dan menikmati seluruh yang diberikan oleh alam Sagea, Maluku Utara.
Dalam bahasa Indonesia, larik doa tersebut bermakna, "Kakek dan nenek leluhur, teruslah bersama kami hingga kami mampu menyelamatkan kampung halaman kami. Tanah, air, hutan, dan seluruh alam Sagea kiya."
Di tengah intimidasi hingga ancaman kriminalisasi, saya bersama perempuan-perempuan lain di Sagea, termasuk Mama Cia, kini berdiri di garis depan perjuangan mempertahankan ruang hidup kami. Bagi saya, melawan tambang bukanlah sesuatu yang baru dimulai sekarang. Kesadaran itu tumbuh sejak saya masih menjadi mahasiswa di Ternate pada 2017. Saat itu saya diperkenalkan oleh senior-senior di Ikatan Pelajar Mahasiswa Sagea Kiya pada gerakan yang sejak awal menolak ekspansi pertambangan di Halmahera Tengah.
Melalui diskusi bersama kawan-kawan mahasiswa di Ternate, saya mulai memahami bagaimana industri pertambangan perlahan menguasai wilayah Teluk Weda. Namun pengalaman paling kuat sebenarnya saya rasakan jauh sebelum masa kuliah.
Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, saya telah melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang di daerah-daerah tetangga. Sebagai warga Sagea, saya tidak ingin kawasan karst di sekitar Gunung Lagae Lol, Telaga Yonelo dan Goa Bokimaruru habis dihancurkan oleh ekspansi tambang. Tiga kawasan itu adalah satu ikatan yang tidak bisa dilepaspisahkan. Menghancurkan salah satunya adalah seperi menghilangkan satu bagian tubuh terpenting. Bagi saya dan warga Sagea, wilayah ini merupakan wilaya penting yang kini berada dalam ancaman.
Karena itu, langkah awal yang kami lakukan bukan hanya aksi protes. Kami berusaha merawat ingatan masyarakat tentang alam Sagea yang dulu masih rimbun dan menjaga seluruh semesta kehidupan di dalamnya. Kini sebagian dari hutan itu telah berubah menjadi gundul.
Keberanian kami, perempuan-perempuan Sagea, untuk melawan tambang berangkat dari kesadaran sederhana. Wilayah Sagea adalah salah satu bentang alam yang tersisa di Teluk Weda. Kalau bukan kami yang melawan, lalu siapa lagi.
Sebagai perempuan, kami memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan alam. Kami sadar betul bahwa tanah, air, dan hutan adalah sumber kehidupan sehari-hari. Kami tahu bagaimana Gunung Lagae Lol memberi kami oksigen untuk tetap hidup meski harus bernapas dengan rasa takut, bagaimana Telaga Yonelo memberi sumber pangan bagi warga. Kami juga memahami bahwa Goa Bokimaruru menyediakan sumber air yang tak akan habis dan melindungi kami dari kekeringan. Alam Sagea menyediakan udara bersih untuk bernapas tanpa polusi dari aktivitas industri.
Kesadaran itulah yang membuat kami memilih untuk bersuara dan terus berjuang agar wilayah-wilayah penting bagi kehidupan kami tidak dirampas. Meski kami juga tahu bahwa ada risiko besar yang harus dihadapi ketika memilih jalan perjuangan ini.
Melawan ekspansi tambang secara terbuka membawa risiko yang tidak kecil. Intimidasi, teror psikis maupun fisik, hingga ancaman kriminalisasi kini menjadi bagian dari pengalaman yang kami hadapi. Namun kami terus berusaha tetap tegar.
Dalam setiap langkah perjuangan, kami selalu mengingat para leluhur. Ada satu seruan yang sering kami ucapkan ketika hendak melawan tambang. “Gae re gele fdadele re ftabtube ame ronta kfasalamat pnu re boten e nje”. Bahwa dalam setiap air mata yang jatuh adalah tangisan dari pagele mto malom, pada amarah yang bangkit adalah amarah dari Mon takway. Kami tidak takut pada sistem, kami hanya takut ketika leluhur kami mengutuk kami karena kami tdak bersuara dan mempertahankan tanah, air, hutan, pohon yang sudah mereka amanatkan pada kami, dirusak oleh tangan-tangan yang tamak.
Perlawanan Berakar dari Kampung
Perlawanan yang kami lakukan tidak hanya melalui aksi demonstrasi. Di kampung, kami juga berusaha menumbuhkan kesadaran generasi muda. Caranya dengan memperkenalkan kembali sejarah kampung kepada anak-anak dan pemuda.
Kami rutin mengadakan diskusi mengenai ancaman lingkungan yang dapat merusak alam Sagea. Upaya merawat ingatan ini menjadi bagian penting dari perjuangan kami. Bagi kami, perempuan Sagea, menjaga ingatan tentang alam berarti menjaga masa depan kampung. Merawat ingatan dan pengetahuan mengenai tanah, hutan, serta sejarah asal-usul warga Sagea adalah cara kami melawan, agar generasi muda tidak melupakan akar kehidupan mereka yang menyatu dengan ruang hidup Sagea.
Perjuangan ini tentu tidak selalu mudah. Ibu saya sering merasa khawatir terhadap aktivitas yang saya lakukan. Namun di balik kekhawatiran itu, keluarga saya tetap memberikan dukungan. Mereka memahami bahwa perjuangan ini bukan sekadar penolakan terhadap tambang, tetapi juga upaya mempertahankan kehidupan kampung.
Di tengah komunitas Sagea sendiri, dukungan juga tidak sepenuhnya seragam. Ada warga yang mendukung perjuangan kami, tetapi ada pula yang berpihak pada aktivitas pertambangan. Meski begitu, kami tetap berjalan dengan keyakinan kami.
Alam sebagai Tubuh Kehidupan
Bagi kami masyarakat Sagea, tanah, hutan, dan telaga bukan sekadar sumber daya alam yang bisa dieksploitasi untuk memperkaya diri. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bagi saya dan warga Sagea, menghancurkan salah satunya sama saja dengan melukai tubuh kami sendiri.
Ketika telaga dirusak, rasanya seperti tangan kami dipotong. Ketika hutan ditebang, seolah kehidupan kami ikut dihilangkan. Tempat-tempat itu juga menjadi ruang spiritual bagi masyarakat Sagea. Di sanalah kami terhubung dengan para leluhur, menjalankan ritus adat, dan memohon perlindungan ketika menghadapi bahaya.
Karena itu, bagi kami perempuan Sagea, mempertahankan alam bukan hanya soal menjaga ruang hidup. Ini adalah perjuangan untuk menjaga kehidupan, martabat, identitas, dan masa depan kampung.
Di Sagea, kami berdiri menjaga tanah kami. Kami percaya bahwa kekayaan sejati bukanlah nikel yang terkandung di perut bumi, melainkan manusia dan alam yang hidup di atasnya.
Selama tanah, air, dan hutan Sagea masih ada, perjuangan ini akan terus hidup.