Suara Warga
Perempuan Penjaga Gunung Gede Pangrango
7 Maret 2026
Setiap hari, Rosita bangun pukul 04.00 subuh untuk menjalankan salat subuh, setelah itu mempersiapkan diri pergi ke warung yang berjarak 200 meter dari rumahnya. Ia memiliki warung di Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa, lokasi yang dalam peta proyek geotermal akan diubah menjadi jalur utama lalu-lalang kendaraan untuk menuju konsesi.
Perempuan Gerengseng Gede Pangrango Jawa Barat
Perempuan Gerengseng Gede Pangrango Jawa Barat

Kami para perempuan yang berjuang di kaki gunung yang suci.
Kami berjuang tak kenal lelah. Kami para perempuan menolak geotermal, hanya ingin menjaga bumi, melindungi warisan leluhur kami, dan melindungi anak cucu dari bencana.
Dengan tangan kosong, kami para pejuang perempuan berani menghadapi kekuasaan dengan hati yang teguh.
Kami berjuang untuk masa depan bumi yang lestari, air yang jernih.
Gunung Gede Pangrango sumber kehidupan,
kami menjaganya dengan cinta dan doa.
Kami tidak ingin kehancuran dan bencana, tetapi keadilan dan kebebasan.
Kami berjuang dengan gigih dan sabar menolak proyek maut yang menghancurkan.
Kami berjuang untuk hak-hak kami:
hak atas hidup dan hak atas bumi.
(Ibu-ibu Gerengseng, Kampung Tumaritis – Desa Sindang Jaya, 19 Februari 2026)
Setiap hari, Rosita bangun pukul 04.00 subuh untuk menjalankan salat subuh, setelah itu mempersiapkan diri pergi ke warung yang berjarak 200 meter dari rumahnya. Ia memiliki warung di Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa, lokasi yang dalam peta proyek geotermal akan diubah menjadi jalur utama lalu-lalang kendaraan untuk menuju konsesi.
Rosita bukan konglomerat yang memiliki toko kelontong modern dengan franchise tersebar di seluruh penjuru negeri. Warungnya hanya menyediakan makanan ringan dan aneka minuman kemasan yang dapat diseduh di tempat. Namun, warung tersebut yang memastikan dapur untuk menghidupi keluarga kecilnya tetap 'hidup'. Ia tinggal bersama dengan ibu dan suami yang saat ini tengah sakit.
Kehadiran proyek panas bumi di Gunung Gede Pangrango yang akan merampas ruang penghidupannya membuat Rosita tak pernah tenang. Ia memutar memori pilu pada 11 Januari 2026, pukul 02.00 dini hari. Saat itu, ia mendapatkan kabar melalui media perpesanan WhatsApp bahwa ada alat berat (backhoe) yang akan memasuki kampung tanpa mendapatkan persetujuan warga sama sekali.
Rosita mencerna pesan tersebut lalu bersama-sama dengan warga merencanakan untuk berkumpul keesokan harinya untuk menghentikan laju alat berat. Saat menghadapi Rosita dan ratusan warga, sopir backhoe mengatakan akan mundur setelah ada kesepakatan dengan pemerintah desa. Hari itu setidaknya Rosita bersama komunitas warga berhasil menahan backhoe agar tidak masuk ke dalam permukiman.
Perundingan dengan Badan Permusyawaratan Desa dilakukan pada Rabu, 14 Januari 2026. Semula pengurus BPD meminta diskusi dilakukan secara tertutup, namun Rosita dan warga menolak dengan lantang dan menuntut diskusi dilakukan secara terbuka. Saat diskusi berlangsung, perusahaan melakukan taktik curang dengan diam-diam menggerakkan bakchoe untuk merangsek masuk.
Geram dengan tindakan tersebut, warga bergerak meninggalkan balai desa yang menjadi lokasi pertemuan menuju lokasi alat berat. Di sana, Rosita dan ratusan warga dihadang oleh puluhan polisi yang bertindak sebagai anjing penjaga backhoe. Rosita bersama perempuan-perempuan lainnya mengambil tindakan, mereka menduduki backhoe, memasang spanduk #TolakGeotermal, sambil menyanyikan yel-yel, “Turun, turun, turunkan beko (backhoe). Turunkan beko sekarang juga.”
Aksi tersebut menuai keberhasilan. Backhoe mundur perlahan keluar kampung. Tetapi, perusahaan kembali mencoba memasukkan backhoe pada 26 Januari 2026. Kali ini, tak hanya mengerahkan polisi sebagai anjing penjaga backhoe, perusahaan juga mengerahkan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan satuan tentara (TNI) untuk menjaga backhoe dari kepungan warga sekaligus memastikan backhoe dapat masuk ke lokasi proyek.
Untuk menjadi catatan, Gunung Gede Pangrango merupakan gunung berapi yang berada di perbatasan Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Pada 1977, kawasan Gede Pangrango mendapatkan pengakuan sebagai Cagar Biosfer (World Network of Biosphere Reserves) oleh UNESCO. Upaya warga untuk menjaga kelestarian Gede Pangrango justru dihambat oleh para pengurus negara dengan memberikan konsesi pertambangan panas bumi kepada anak usaha Sinar Mas, PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP).
Penolakan operasi DMGP yang dilakukan warga di lingkar Gede Pangrango selain untuk menjaga ruang hidupnya, sekaligus untuk menjaga kelestarian Gede Pangrango yang menyediakan air bersih dan penyangga pangan bagi warga di tiga provinsi, Jakarta, Jawa Barat, hingga Banten. Para perempuan di lingkar Gede Pangrango memahami betul bahwa menjaga Gunung Gede Pangrango harus dilakukan demi menyelamatkan masa depan anak dan cucu. "Gunung Gede adalah sumber kehidupan kita," ucap Nayla, perempuan lain dari Gede Pangrango yang berada dalam satu barisan perjuangan dengan Rosita.
Nayla mengungkapkan, meski jarang terlihat, peran perempuan dalam perjuangan menolak operasi geotermal sangat besar. Para perempuan bukan aktor pasif, sebab, pertukaran informasi mengenai geotermal di antara mereka tumbuh secara aktif dan spontan, serta melintas generasi.
Perempuan lainnya di lingkar Gede Pangrango, Dewi, kerap mengajak anak-anaknya untuk mengikuti berbagai agenda diskusi mengenai geotermal. Niatnya tulus dan sederhana, ia ingin anak-anaknya menyaksikan dan memahami perjuangan warga untuk menjaga Gunung Gede Pangrango sebagai rumah dan sumber kehidupan warga. Tetapi, kerapkali cara-cara ini dianggap bukan merupakan perjuangan yang dapat dikalkulasi atau diukur melalui orasi atau teriakan panjang di depan toa atau suara lantang dengan diksi 'langit' di setiap diskusi.
Ketika suami Dewi, Cece Jaelani, dikriminalisasi pada 2024, ia yang paling pertama menerima dampaknya. Ia berupaya tegar agar kehidupan keluarga kecilnya dapat berjalan 'normal', utuh, tanpa tanpa bayang-bayang ketakutan yang terus mengetuk pintu setiap malam. Di tengah kecemasan dan tekanan sosial, Dewi tetap melakukan aktivitas sehari-hari, sebagai istri dan ibu. Ia belajar menata kegelisahan menjadi ketabahan, mengubah air mata menjadi kesenyapan yang menguatkan.
Perjuangan Dewi dan perempuan-perempuan lainnya di lingkar Gunung Gede Pangrango tak pernah benar-benar bisa dikerdilkan atau direduksi menjadi hitungan jumlah massa dan panjangnya orasi. Mereka merawat gerakan lewat cara-cara yang senyap namun berakar dalam, dengan meneruskan pengetahuan mengenai identitas sebagai warga Gede Pangrango yang tak dapat dicerabut oleh seorangpun, menjaga diskusi tetap hidup, serta menenun solidaritas dari dapur ke dapur dan dari kebun ke kebun. Mereka mengajarkan kepada seluruh makhluk bahwa perjuangan tidak hanya semata tentang siapa yang paling lantang bersuara, yang paling bernyali, karena medan perjuangan bukanlah kompetisi sesama warga, melainkan siapa yang paling setia bertahan.