Suara Warga
Perempuan Beutong Bersatu Menolak Tambang
7 Maret 2026
Terus terang, rasa was-was itu selalu ada. Kami tahu perusahaan tidak akan berhenti begitu saja, dan kami juga sering merasa pemerintah tidak benar-benar peka terhadap perjuangan kami.
Saudah
Perempuan Beutong Ateuh Banggalang, Aceh

Nama saya Saudah. Orang-orang di kampung memanggil saya Makwod. Tatapan saya mungkin terlihat tajam bagi sebagian orang. Tetapi bagi saya, tatapan ini menunjukkan keteguhan yang muncul saat harus berdiri di garda terdepan menolak kehadiran pertambangan emas yang hendak merampas kedamaian kehidupan di kampung kami.
Kami, para perempuan di Beutong, sering dianggap tidak memiliki rasa takut. Setahun lalu, dengan toa masjid di tangan, saya berteriak lantang, “Siapa saja yang masih merasa warga Beutong Ateuh Banggalang, keluar dan hadang perusahaan tambang!” Suara saya menggema ke seluruh kampung. Toa yang biasanya digunakan untuk memanggil azan itu saya gunakan untuk memanggil warga menjaga ruang hidup yang kami yakini sebagai rahmat dari Allah SWT.
Tak sampai lima belas menit, ratusan ibu-ibu yang sedang berada di rumah maupun di sawah berhamburan keluar dan berkumpul di jembatan desa. Setelah itu, para pemuda juga datang menyusul. Kami bersama-sama menghadang rombongan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, PT Bumi Mentari Energi (BME), dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Aceh yang hendak membuka jalan bagi kegiatan pertambangan di kampung kami.
Apa yang kami lakukan hanyalah bagian kecil dari perjuangan panjang perempuan-perempuan Beutong Ateuh Banggalang untuk mempertahankan ruang hidup, nilai-nilai tradisi, serta hutan, sumber air, dan tanah yang menjadi sumber pangan kami. Kampung kami berada di sebuah lembah subur di Kawasan Ekosistem Leuser, wilayah yang sejak lama diincar investor tambang emas karena disebut memiliki cadangan sekitar 2,1 juta ounce atau sekitar 59,5 ton emas.
Perjuangan kami sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum sekarang. Upaya perusahaan menambang emas di wilayah kami sudah terjadi sejak lama, bahkan sejak sebelum pandemi Covid 19 menerpa. Yang kami ingat, perjuangan kami pernah membuahkan hasil di tahun 2020. Saat itu, kami akhirnya memenangkan perjuangan besar ketika Mahkamah Agung membatalkan izin usaha pertambangan emas PT Emas Mineral Murni yang memiliki konsesi sekitar 10 ribu hektare. Putusan itu memberi kami harapan bahwa tanah kami bisa tetap selamat.
Namun kedamaian yang kami rasakan itu tidak berlangsung lama. Pada 2025, perusahaan kembali muncul dengan mengajukan izin baru seluas sekitar 3.500 hektare. Ketika kami mengetahui hal itu, kami benar-benar geram. Kami tidak bisa diam melihat ancaman itu kembali datang.
Bersama warga yang sepakat menolak pertambangan emas di Beutong Ateuh Banggalang, kami terus melakukan berbagai upaya. Kami mendatangi berbagai otoritas negara, mulai dari Gubernur Aceh, Ketua DPRD Aceh, hingga lembaga-lembaga resmi lainnya. Dalam beberapa pertemuan, ada saja upaya untuk melunakkan sikap warga. Tetapi bagi kami, para perempuan Beutong Ateuh Banggalang, tanah ini bukan sesuatu yang bisa ditukar dengan janji apa pun.
Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa warga Beutong Ateuh Banggalang akan terus mempertahankan tanah, kebun, sawah, dan hutan kami dari ancaman tambang. “Walaupun nyawa kami jadi taruhannya, selangkah pun kami tidak akan mundur mempertahankan tanah kami,” saya tegaskan dalam pertemuan dengan Komisi I DPR Aceh pada akhir 2025.
Saat ini saya memimpin komunitas Perempuan Beutong Bersatu. Melalui komunitas ini, kami dengan tegas menolak deforestasi, pertambangan, dan berbagai bentuk agenda ekstraktif lainnya yang mengancam kampung kami. Saya juga sering mengingatkan bahwa suara perempuan tidak boleh lagi diabaikan dalam berbagai keputusan yang menyangkut masa depan kampung kami.
Melalui komunitas ini pula, kami berusaha mewariskan pengetahuan adat kepada generasi muda Beutong. Kami merawat satu-satunya rumah adat yang masih tersisa di kampung kami. Rumah itu kami jadikan tempat bermusyawarah warga sekaligus ruang untuk menjaga identitas budaya Beutong Ateuh Banggalang.
Sampai hari ini kami masih berdiri bersama warga menghadang berbagai upaya industri ekstraktif yang ingin merampas ruang hidup kami. Terus terang, rasa was-was itu selalu ada. Kami tahu perusahaan tidak akan berhenti begitu saja, dan kami juga sering merasa pemerintah tidak benar-benar peka terhadap perjuangan kami.
Namun selama kami masih hidup di tanah ini, kami akan terus menjaganya.