Aksi & Solidaritas
Sagea-Kiya adalah Kehidupan, Bukan untuk Dijual
8 Maret 2026
Halmahera semakin dikepung oleh cengkraman oligarki tambang. Peristiwa pembungkaman dan kriminalisasi 11 warga Maba Sangaji, Halmahera Timur sebelumnya, kemudian disusul 14 warga Sagea-Kiya, Halmahera Tengah menyadarkan kita untuk bisa saling bersolidaritas. Peristiwa yang terjadi hari ini kepada warga Sagea-Kiya, bisa saja esok atau lusa terjadi pada orang di kanan kiri kalian atau diri kita sendiri.
Tim Jatam
Tim Penulis Jaringan Advokasi Tambang

Kriminalisasi kembali terjadi, 14 warga Desa Sagea dan Kiya, Halmahera Tengah, Maluku Utara mendapat panggilan dari Polda Maluku Utara terkait penolakan tambang kontraktor PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT First Pacific Mining. Tindakan perusahaan yang melaporkan warga karena mempertahankan ruang hidupnya ini justru bukan sekadar proses hukum biasa, melainkan sebagai bentuk menyebarkan pesan intimidasi ke warga dan Koalisi Save Sagea.
Jika jalan kriminalisasi adalah cara yang dipilih untuk meredam amarah perlawanan, maka itu sekaligus membuktikan bagaimana watak sebenarnya dari industri ekstraktif oleh negara-korporasi yang lebih mengutamakan investasi dan keuntungan dibanding keselamatan warga, kelestarian lingkungan, dan masa depan generasi kita.
“Kami secara konsisten menolak kehadiran tambang di Kampung Sagea dan Kiya. Kami sadar bahwa bentang alam Karst Sagea dan Telaga Yonelo (Lagaelol) merupakan infrastruktur alam yang penting dan setiap ekosistem saling terhubung dalam kesatuan ekologis,” ucap warga Sagea.
Penolakan tambang di Sagea bukan sekadar penolakan terhadap sebuah perusahaan, melainkan juga mempertahankan sebuah kehidupan. Kawasan Sagea-Kiya bukan ruang kosong yang bisa dikavling, dipetakan, dan dieksploitasi demi kepentingan korporasi. Di wilayah tersebut terdapat sumber mata air yang menghidupi warga penduduk, hutan yang menjadi penyangga kehidupan, kebun yang menjadi sandaran ekonomi keluarga, dan terdapat relasi sosial-budaya yang telah tumbuh dan diwariskan lintas generasi.
“Karst Sagea bukan sekadar batuan. Tetapi ia adalah ruang hidup, penyimpan air, penyangga ekosistem, dan bagian dari identitas budaya kehidupan kami,” tandasnya.
Halmahera semakin dikepung oleh cengkraman oligarki tambang. Peristiwa pembungkaman dan kriminalisasi 11 warga Maba Sangaji, Halmahera Timur sebelumnya, kemudian disusul 14 warga Sagea-Kiya, Halmahera Tengah menyadarkan kita untuk bisa saling bersolidaritas. Peristiwa yang terjadi hari ini kepada warga Sagea-Kiya, bisa saja esok atau lusa terjadi pada orang di kanan kiri kalian atau diri kita sendiri.